Rabu, 27 April 2011

Rencana Kerja Tindak Lanjut


RENCANA KERJA TINDAK LANJUT
(RKTL)

Pemberdayaan  Siwalan dan Optimalisasi Nira Siwalan
Disusun Oleh :
Arif Hermanto
0910480021

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2010



BAB I
PENDAHULUAN

Rencana kerja tindak lanjut ( RKTL) disusun untuk merespon kebutuhan praktis dilapangan terkait dengan berbagai masalah atau konflik  yang dihadapi terkait pelaksanaan suatu program. RKTL dapat dijadikan pedoman untuk menetapkan hal- hal pokok yang menjadi prioritas, tugas dan tanggung jawab dalam menindaklanjuti suatu temuan, sekaligus sebagai upaya untuk meningkatkan kapasitas, dan penerapan ketrampilan dalam situasi nyata.
Dalam bahasan ini, akan dipaparkan mengenai suatu program perencanaan untuk pemberdayaan tanaman Siwalan dan juga upaya optimalisasi Nira Siwalan, cenderung mudah rusak.
Siwalan (juga dikenal dengan nama pohon Siwalan atau tal) adalah sejenis palma yang tumbuh di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Siwalan  (Borassus Sundaicus Beccari) adalah tanaman penghasil gula paling efisien di dunia. Siwalan termasuk tanaman berkelamin ganda. Mayang jantan muncul dari pucuk Siwalan berupa tunas-tunas bercabang tajam berpasangan. Mayang betina menghasilkan tandan-tandan berisi buah. Buah Siwalan dikenal dengan nama siwalan, terutama di Jawa. Di Jawa, buah Siwalan lebih banyak di panen dibandingkan disadap niranya.  
Buah Siwalan atau siwalan termasuk sulit didapat di Indonesia, kalaupun ada tidak dijajakan secara khusus seperti pada musim buah durian atau rambutan. Buahnya kenyal dan manis hampir seperti kolang-kaling. Namun dibalik ke-istemewaannya tersebut, nira siwalan sangat mudah terfermentasi sehingga dapat terbentuk alkohol (atau yang sering disebut tuwak), hal inilah yang sebenarnya menjadi inspirasi dan motivasi untuk memberdayakan dan mengoptimalkan tanaman siwalan. Karena berdasarkan estimasi saya, hal ini akan menguntungkan apabila dikelola dengan sangat baik. Dan kita ketahui bahwa saat ini, keberadaan tanaman siwalan masih sangat jarang di Indonesia.
Jadi, pada dasarnya saya berrencana untuk membuat agar nira siwalan tidak cepat terfermentasi (menjadi alkohol) sehingga pada prospek kedepannya dapat dilakukan eksport  ke tempat lain atau bahkan ke negara lain.

BAB II
TUJUAN DAN SASARAN
2.1 Tujuan
Ada beberapa tujuan umum yang ingin dicapai dari serangkaian perencanaan ini, diantaranya:
a.    Membuka lahan perkebunan di areal yang strategis, sebagai langkah awal program perencanaan ini. Sehingga dari perkebunan tersebut, diharapkan dapat menyerap tenaga kerja yang cukup banyak.
b.    Membudidayakan tanaman Siwalan yang menjadi salah satu kekayaan flora di Indonesia.
c.    Melakukan optimalisai terhadap nira siwalan yang pada dasarnya sangat cepat rusak, karena mudahnya terfermentasi. Sehingga, diharapkan dengan proses optimalisasi nantinya nira siwalan bisa tahap lebih lama atau mungkin dapat dijadikan produk kemasan dan menjadi komoditas eksport.
d.   Untuk mempraktikan metode RKTL(rencana kerja tindak lanjut).

2.2 Sasaran
            Secara umum, hal-hal yang dijadikan sasaran umum dalam program RKTL ini adalah:
a.     Produk yang dihasilkan dapat diterima masyarakat luas.
b.    Bertambahnya kesempatan kerja bagi masyarakat.
c.     Diharapkan dalam kapasitas produksi yang besar, dapat menembus pasar internasional.
d.    Menghasilkan produk yang sehat dan ramah lingkungan.



BAB III
INDIKATOR DAN STANDART KERJA

3.1 Indikator
            Hal yang dijadikan parameter atau indikator, saya rasa adalah keberhasilan budidaya tanaman siwalan. Selain itu alternatif  yang dijadikan sumbu utama untuk memecahkan masalah juga menjadi sangat penting. Intinya, bagaimana nira siwalan tidak mudah terfermentasi menjadi minuman beralkohol.

Indikator keberhasilannya, saya rasa diantaranya diterimanya produk hasil olahan dari nira siwalan setelah dilakukan optimalisasi, sehingga parameter keberhasilannya bisa ditentukan dengan baik.

3.2 Standart kerja
                               Menentukan standart kerja saya rasa tidak mudah. Hal itu, sebenarnya tergantung orientasi yang kita pillih, apakah kita berorientasi pada pasar lokal atau dunia. Apabila kita berorientasi pada pasar global, resikonya adalah peningkatan terhadap kualitas dan kuantitasnya (produk) juga semakin tinggi, sehingga menuntut standart kerja yang tinggi pula.

                



BAB IV
RENCANA REALISASI

Hal yang penting sebenarnya, bagaimana kita merealisasikan atau  menindaklanjuti apa yang telah kita konsepkan. Dan dalam hal ini, yang terpenting adalah bagaimana memetakan strategi dan langkah- langkah yang tepat untuk memberdayakan dan mengoptimalisasi produk siwalan.
Langkah awal yang ingin saya lakukan adalah melakukan penelitian untuk mendapatkan alternatif-alternatif ataupun solusi agar Nira siwalan yang sebelumnya sangat mudah terfermentasi menjadi tahan lebih lama sehingga dapat dijadikan produk kemasan yang memiliki daya simpan yang lama.
Selanjutnya, setelah alternatif yang dimaksud dapat ditemukan. Tahap selanjutnya adalah mencari areal yang strategis dan areal yang  memenuhi syarat tumbuh bagi tanaman siwalan. Sehingga disitu, dapat dibudidayakan tanaman siwalan dalam kuota yang besar. Kalaupun alternatif yang dimaksudkan tidak ditemukan, pembukaan lahan akan tetap dilakukan, karena pada dasarnya produk siwalan dapat dipasarkan dalam bentuk segar.
Pada saat pembukaan lahan, akan sekaligus dilakukan pe-reqruit-an tenaga kerja untuk membantu keberlanjutan proyek tersebut.
Tahap selanjutnya adalah penanaman dan perawatan tanaman. Dalam perawatan tersebut ada kriteria kegiatan yang harus dilakukan diantaranya:

a.      Konsolidasi atau sensus tanaman
Konsolidasi atau disebut juga sensus adalah kegiatan yang dilakukan untuk menginventarisasi tanaman yang mati, tumbang, atau terserang hama atau penyakit. Selain itu dilakukan pula menegakkan tanaman yang tampak miring dan memadatkan tanah setelah selesai kegiatan penanaman.
b.      Penyisipan tanaman(penyulaman)
Kegiatan penyisipan tanaman dilakukan untuk mengganti tanaman yang telah mati, hilang atau kemungkinan besar tanaman tidak akan berproduksi optimal. Kedua kegiatan sensus dan penyisipan bertujuan untuk memastikan bahwa tanaman-tanaman yang ada di lapangan adalah tanaman produktif.



c.       Pengukuran pertumbuhan tanaman
Kegiatan pengukuran pertumbuhan merupakan upaya untuk memperoleh data tingkat pertumbuhan dan kondisi tanaman. Caranya yaitu mengukur panjang pelepah pada berbagai umur. Data hasil pengukuran tersebut akan dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan.
d.      Pemupukan tanaman
Perencanaan pemupukan tanaman Siwalan belum menghasilkan (TBM) dilakukan oleh Mandor besar (Mandor 1), Mandor pemupukan dan krani afdeling dengan berpedoman pada Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) dan RAB. Rencana pemupukan Siwalan (TBM) meliputi:
• Blok tanaman yang akan dipupuk
• Jumlah kebutuhan pupuk per blok
• Permintaan kendaraan
• Tempat pengeceran pupuk
• Jenis dan jumlah peralatan pemupukan
e.       Pengendalian hama dan penyakit
Pengendalian terhadap serangan hama dan penyakit yang dapat menurunkan hasil produksi siwalan. Umumnya hama yang sering menyerang adalah kumbang badak.

Dari serangkaian upaya pembudidayaan diatas kemudian akan dilanjutkan dengan tahap pengolahan hasil. Jadi hasil pengambilan Nira ada yang akan di jual segar dan ada pula yang akan dimasukkan pabrik untuk diolah lebih lanjut, sehingga produk dapat dipasarkan kepada masyarakat.



BAB V
KEGIATAN DAN ORGANISASI

KEGIATAN
Kegiatan akan dipusatkan untuk rutinitas perawatan tanaman dan juga pengambilan nira siwalan. Karena pada dasarnya , nira siwalan dapat diambil setiap hari sehingga dapat dikatakan sangat produktif. Selain nira, buah siwalan juga dikonsumsi secara langsung.

ORGANISASI
Saya rasa untuk masalah keorganisasian, dalam prospek ini akan lebih berorientasi pada organisasi kepegawaian.  Secara struktural akan dipimpin oleh satu bos besar, yang akan dibantu oleh beberapa mandor. Sistem kerja akan dibagi menjadi beberapa sektor diantaranya  sektor pengurus perkebunan, sektor penanganan hasil (pabrik) dan sektor marketing. Dimana setiap sektor nantinya akan diawasi oleh managerial (mandor).


BAB III
MONITORING DAN EVALUASI

MONITORING
               Kegiatan monitoring tentunya akan secara langsung dilakukan oleh mandor lapang, dan kemudian akan melaporkan hasil monitoring kepada atasannya. Namun untuk menghindari kesalahpahaman, tidak ada salahnya apa bila bos besar melakukan monitoring sendiri sekali-kali.

EVALUASI
               Evaluasi sebaiknya dilakukan bersama seluruh personal kepegawaian, untuk membahas apa saja hal-hal yang menjadi permasalahan ataupun apabila ada kendala – kendala yang dihadapi. Selain itu, perlu pula dilakukan evaluasi kerja, sehingga apabila ada pekerjaan yang kurang tapat segera dibenarkan.


BAB VII
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

KESIMPULAN
               Berdasarkan beberapa paparan diatas dapat disimpulkan bahwa, tanaman siwalan memiliki buah yang dapat dikonsumsi segar dan juga nira yang sangat cepat terdfermentasi membentuk cairan beralkohol. Sehingga membutuhkan alternatif ataupun metode khusus untuk membuatnya tidak mudah terfermentasi. Namun metode inilah yang sampai saat ini belum bisa saya temukan.

REKOMENDASI
               Agar dalam merelisasikan suatu konsep yang telah matang, benar – benar diiringi dengan usaha keras agar konsep yang didapatkan dapat memberikan hasil yang maksimal.
              

Selasa, 01 Februari 2011

laporan praktikum fisiologi tanaman

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TANAMAN

“TANAMAN C3, C4 DAN CAM”









Disusun oleh:
  Nama               :Arif Hermanto
NIM                 :0910480021
              Asisten             : Mbak Atika              

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2010

BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang

Tanaman adalah mahluk hidup yang mendapat makanannya sendiri dengan fotosintesis. Berdasarkan tipe fotosintesis, tumbuhan dibagi ke dalam tiga kelompok besar, yaitu C3, C4, dan CAM (crassulacean acid metabolism). Tumbuhan C4 dan CAM lebih adaptif di daerah panas dan kering dibandingkan dengan tumbuhan C3.
Tanaman C3 dan C4 dibedakan oleh cara mereka mengikat CO2 dari atmosfir dan produk awal yang dihasilkan dari proses assimilasi. Pada tanaman C3, enzim yang menyatukan CO2 adalah RuBP dalam proses awal assimilasi, yang  juga dapat mengikat O2 pada saat yang bersamaan untuk proses fotorespirasi . Jika konsentrasi CO2 di atmosfir ditingkatkan, hasil dari kompetisi antara CO2 dan O2 akan lebih menguntungkan CO2, sehingga fotorespirasi terhambat dan assimilasi akan bertambah besar.
Pada tanaman C4, CO2 diikat oleh PEP yang tidak dapat mengikat O2 sehingga tidak terjadi kompetisi antara CO2 dan O2. Lokasi terjadinya assosiasi awal ini adalah di sel-sel mesofil. CO2 yang sudah terikat oleh PEP kemudian ditransfer ke sel-sel "bundle sheath" dimana kemudian pengikatan dengan RuBP terjadi.  Tipe crassulacean acid metabolism ( CAM) merupakan tipe tanaman yang mengambil CO2 pada malam hari, dan mengunakannya untuk fotosistensis pada siang harinya. Tumbuhan CAM yang dapat mudah ditemukan adalah nanas, kaktus, dan bunga lili (Budiarti, 2008) .
Dalam praktikum ini, akan dibahas mengenai tanaman C3, C4 dan CAM secara lebih mendalam.
1.2    Tujuan
Tujuan dari praktikum ini, adalah untuk :
a.       Mengetahui definisi tanaman C3,C4 dan CAM
b.      Mengetahui perbedaan tanaman C3 dan C4
c.       Mengetahui karakteristik tanaman CAM
d.      Mengetahui siklus pada tanaman C3 dan C4


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1     Definisi tanaman C3
a.    Tanaman C3 adalah tanaman yang mempunyai lintasan atau siklus PCR (Photosynthetic Carbon Reduction) atau sering disebut siklus calvin yang dapat menghasilkan asam organik yang mengandung 3 atom C dan jaringan yang terlibat dalam proses fotosintesis adalah jaringan mesofil. Lintasan itu dimulai dari pengikatan CO2 dengan RBP dan RuBP
(Sitompul, 1995)
b.    Tanaman C3 adalah kelompok tumbuhan yang menghasilkan senyawa phospho gliseric acid yang memiliki 3 atom C pada proses fiksasi CO2 oleh ribolusa diphosphat.
(Budiarti, 2008)
c.    C3 plant is A plant that produces the 3-carbon compound phosphoglyceric acid as the  first stage of photosynthesis.
(Anonymous, 2010)


2.2    Definisi tanaman C4
a.       Tanaman C4 adalah tanaman yang menghasilkan asam 4 karbon sebagai produk utama penambahan CO2.
(Salisburry, 1998)
b.      Tanaman C4 adalah kelompok tumbuhan yang melakukan persiapan reaksi gelap fotosintesis melalui jalur 4 karbon / 4C (jalur hatch- slack) sebelum memasuki siklus calvin, untuk meminimalkan keperluan fotorespirasi.
(Budiarti, 2008)
c.    C4 plant are plants that produces the 3-carbon compound phosphoglyceric acid as the  first stage of photosynthesis.
(Anonymous, 2010)




2.3    Definisi tanaman CAM
a.    Tanaman CAM adalah tanaman yang dapat berubah seperti tanaman C3 pada saat pagi hari (suhu rendah) dan dapat berubah seperti tanaman C4 pada siang hari dan malam hari.
(Gardner, 1991)
b.    Tanaman CAM adalah tanaman yang tumbuh di kawasan gurun dan mengambil CO2 di atmosfer dan membentuk sebagian 4 karbon juga.
(Bidwell, 1974)

2.4    Perbedaan tanaman C3 dan C4
Sifat pembeda
Tanaman C3
Tanaman C4
Suhu optimum





Tanaman C3 (Tanaman Musim Dingin) mempunyai suhu optimum 55-75 0F    proses fotosintesis
berlangsung pada suhu 32-95 0F
Tanaman C4 (Tanaman Musim Panas) mempunyai suhu optimum 75-95 0F     proses fotosintesis
berlangsung pada suhu 55-105 0F
Kadar fotosintesis
Lebih rendah
Lebih tinggi
Enzim pada fiksasi CO2
RuBP Carboxylase
PEP Carboxylase
Kebutuhan energi
Lebih sedikit
Lebih banyak
Adaptasi dalam
pengikatan CO2
Terdapat dalam kawasan sejuk, lembab ke panas dan keadaan yang lembab
Terdapat dalam kawasan yang panas, keadaan kering dan sedikit lembab
Cara kedua tumbuhan memfiksasi CO2
CO2 hanya difiksasi RuBP oleh karboksilase RuBP hanya bekerja apabila CO2 jumlahnya melimpah
Enzim karboksilase PEP memfiksasi CO2 pada akseptor karbon lain yaitu PEP. Karboksilase PEP memiliki daya ikat yang lebih tinggi terhadap CO2 daripada karboksilase RuBP. Oleh karena itu tingkat CO2 menjadi sangat rendah pada tumbuhan C4
Fotorespirasi
Tinggi
Rendah
Hasil pertama fiksasi CO2
ya
Tidak
Fotosintesis maksimum
10 – 40 ppm
30 – 90 ppm
(Prasetyo, 2008)
2.5    Karakteristik tanaman CAM
Tanaman CAM (Crassulation Acid Metabolism Plants) pada dasarnya adalah tanaman sukulen  yaitu tanaman yang berdaun atau berbatang tebal yang bertranspirasi rendah. Dalam kondisi kering, stomata pada malam hari akan terbuka untuk mengabsorbsi CO2 dan menutup pada siang hari untuk mengurangi transpirasi. Fiksasi CO2 tanaman CAM sama seperti tanaman C4, hanya saja terjadinya pada malam hari dan energi yang dibutuhkan diperoleh dari glikolisis. Namun dalam kondisi cukup lemah, banyak spesies CAM merubah fungsistomata dan karboksilasi seperti tanaman C3. Tanaman CAM juga mempunyai metode fisiologis untuk mereduksi kehilangan air dan menghindari kekeringan.
(Salisburry, 1998)

Berdasarkan literatur lain, dijelaskan bahwa karakteristik tanaman CAM adalah sebagai berikut:
1.         Membuka stomatanya pada malam hari menggabungkan CO2 ke dalam asam organik.
2.         Selama siang hari stomatanya tertutup dan CO akan dilepaskan dari asam organik untuk di gunakan dalam siklus calvin.
3.         Pada malam hari terjadi lintasan C4 dan siang hari terjadi siklus C3.
4.         Kelompok tumbuhan ini umumnya adalah tumbuhan jenis sukulen yang tumbuh da daerah kering
(Anonymous, 2010)

2.6    Siklus pada tanaman C3 dan C4
a.      Siklus pada tanaman C3

Siklus ini terjadi dalam kloroplas pada bagian stroma.Untuk menghasilkan satu molekul glukosa diperlukan 6 siklus C3.
CO2 diikat oleh RUDP

dirubah menjadi senyawa organik C6
(tidak stabil)

dirubah menjadi glukosa
(dengan menggunakan 18ATP dan 12 NADPH)
menghasilkan satu molekul glukosa diperlukan 6 siklus C3.


Siklus C3 :

b.      Siklus Pada Tanaman C4

CO2
                                          (Diikat oleh PEP)
CO2 yang sudah terikat oleh PEP

ditransfer ke sel-sel “bundle sheath”
(sekelompok sel-sel di sekitar xylem dan phloem)

pengikatan dengan RuBP
karena tingginya konsentrasi CO2 pada sel sel bundle sheath ini , maka O2 tidak mendapat kesempatan untuk bereaksi dengan RUBP, sehingga foto respirasi sangat kecil dan G sangat rendah, PEP mempunyai daya ikat sangat tinggi terhadap CO2, sehingga reaksi fotosintesis terhadap CO2 dibawah 100 m mol m-2 s-1 sangat tinggi.
Siklus C4: 

(Anonymous. 2010)



BAB III
       METODOLOGI
3.1     Alat, Bahan + Fungsi
a.      Alat :
1.         Mikroskop       : untuk mengamati objek.
2.         Silet/cutter       : untuk memotong bahan.
3.         Kaca preparat  : untuk tempat bahan/objek pengamatan
4.         Kaca penutup  : untuk menutup objek pada kaca preparat
5.         Pensil/pena      : untuk menggambar hasil dari pengamatan

b.      Bahan :
1.      Daun nanas     : sebagai objek pengamatan (tanaman CAM)
2.      Daun jagung    : sebagai objek pengamatan (tanaman C4)
3.      Daun kacang Hijau     : sebagai objek pengamatan (tanaman C3)

3.1  Cara kerja (diagram alir)
Daun dipotong melintang
(jagung , nanas, kacang hijau)
Letakkan pada preparat

Tetesi Air

Tutup preparat dengan kaca penutup
+ squash 1800

      Amati pada mikroskop

         Hasil

3.2  Analisa perlakuan
Pertama-tama daun dari masing-masing tanaman-tanaman (jagung, kacang hijau dan nanas) dipotong melintang dan potongan daun harus tipis bertujuan supaya dapat diamati pada mikroskop. Kemudian irisan melintang tersebut diletakkan pada kaca preparat dan ditetesi airkemudian ditutupi dengan kaca  penutup lalu disquash 3600bertujuan untuk menempelkan objek pada preparat sehingga dapat diamati pada mikroskop. Kemudian hasil Kemudian amati dibawah mikroskop, setelah sample diamati kemudian gambar (photo).



















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1         Gambar literatur sel tanaman C3 dan tanaman C4
a.      Sel tanaman C3

b.      Sel tanaman C4
 

 (Anonymous, 2010)



4.2         Gambar Hasil Pengamatan Mikroskop ( hasil gambar foto dan gambar tangan)
Sel tanaman C3                                                        


tanaman C4


Tanaman CAM





4.3         Pembahasan perbedaan anatomi daun C3, C4 dan CAM
a.      Anatomi daun tanaman C3 ( kacang hijau)
Tanaman C3 (kacang hijau), anatomi daunnya memiliki jaringan spons dan parenkim palisade. Jaringan daun tanaman C3 juga terdapat epidermis atas dan bawah. Selain itu, tanaman C3 mempunyai mesofil yang memisahkan jaringan spons dengan parenkim palisade.
Hal ini sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa tanaman C3 tidak mempunyai jaringan bunga karang, tapi mempunyai mesofil. Tidak mempunyai kloroplas pada sel-sel seludangnya, kloroplas dalam mesofil menimbun tepung dengan jumlah lebih kecil. Tanaman C3 memiliki enzim RuBP.
(Dwidjoseputro, 1990)

b.      Anatomi daun tanaman C4 (jagung)
Tanaman C4 (jagung), anatomi daunnya memiliki lapisan epidermis yang lebih tebal daripada daun tanaman C3. Selain itu, daun tanaman C4 juga mempunyai mesofil dan jaringan bunga karang, namun tidak mempunyai parenkim spons. Ikatan pembuluh pada tanaman C4 juga lebih besar daripada daun tanaman C3. Perbedaan yang penting antara daun tanaman C3 dan C4 adalah daun tanaman C4 memiliki bundle sheet cell di sekitar mesofilnya.
Hal diatas sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa tanaman C4 memiliki mesofil dan jaringan bunga karang (bundle sheat), mempunyai enzim dalam sel-sel seludangnya. Kloroplas dalam mesofil tidak menimbun tepung, dengan jumlah kloroplas dalam sel seludang ikatan pembuluh, lebih besar dan mempunyai stroma yang keras.
(Dwidjoseputro, 1990)

c.       Anatomi daun tanaman CAM (nanas)
Anatomi tanaman CAM (nanas), yaitu mempunyai lapisan epidermis lebih tipis, namun memiliki ikatan pembuluh yang lebih besar. Bundle sheet cell pada tanaman CAM terdapat di tepi atau dekat epidermis. Mesofil pada daun membentang lurus menghubungkan ikatan pembuluh. Daun tanaman CAM memiliki kutikula yang luas dengan vakuola yang besar serta lapisan sitoplasmanya yang tipis.
Hal ini sesuai dengan literature yang menyebutkan bahwa kebanyakan tanaman CAM berupa tanaman sukulen dan mempunyai kutikula yang luas dengan vakuola yang besar dan lapisan sitoplasmanya tipis.
(Salisbury, 1998)
4.4 Analisa hasil
Tanaman yang diamati  pada mikroskop pada waktu praktikum adalah tanaman C4 (Jagung) dan CAM (nanas) sedangkan tanaman C3 tidak diamati.
Pada tanaman CAM memiliki lapisan epidermis yang lebih tipis, mempunyai sel bundle sheath, tetapi sel tersebut hampir sama dengan sel mesofil. Pada tanaman C4, anatomi daunnya memiliki lapisan epidermis yang lebih tebal dari pada tanaman CAM dan tanaman ini mempunyai sel bundle sheath,





BAB V
KESIMPULAN
5.1   Kesimpulan
1)      Tumbuhan C3 merupakan tumbuhan  subtropis yang menghasilkan glukosa dengan pengolahan CO2 melalui siklus Calvin, yang melibatkan enzim Rubisco sebagai penambat CO2.
2)      Tanaman C4 adalah tanaman dengan hasil pertama dalam fotosintesis di mesofil berupa suatu molekul dengan 4 atom C
3)      Tanaman CAM adalah tanaman yang tidak memiliki lapisan palisade yang teratur, sel daun rantingnya merupakan sel mesofil bunga karang
·                Proses pengikatan CO2 oleh tanaman C3 terdiri dari :
Ø    Fase karboksilase
Ø    Fase reduksi
Ø    Fase regenerasi
Ø    Fase sintesis produk
·                Proses pengikatan CO2 oleh tanaman C4 terdiri dari :
Ø    Asimilasi CO2
Ø    Transportasi asam C4
Ø    Dekarboksilase
Ø    Transportasi asam C4

5.2   Saran
·       Perlengkapan alat praktikum agar dilengkapi.



DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2010. http://id.wikipedia.org/wiki/Fotosintesis. diakses tanggal 29 November 2010.
Anonymous.2010.http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080524220224AAC70W4. Diakses tanggal 29 November 2010.
Dwidjoseputro, 1991. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia, Jakarta
Gardner, Franklin. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. UI Press. Jakarta
Salisburry, Frank B. 1998. Photosynthesis 6th Edition. Cambridge University Press. London
Sitompul, SM. 1995. Fisiologi Tanaman Tropis. Universitas Mataram. Lombok.